Test Toleransi Oksigen (Oxygen Tolerance Test)

Test Toleransi Oksigen (TTO) adalah test yang dilakukan untuk menilai kapasitas tubuh dalam mentoleransi oksigen dalam tekanan udara tinggi. TTO mencoba mencari korelasi rasional antara tekanan udara – difusi oksigen – toksisitas oksigen yang bersifat individual. Bagi calon penyelam, menyelam baru boleh dilakukan jika tidak menunjukkan tanda- tanda keracunan oksigen murni (100 %) selama 30 menit pada tekanan 1,8 ATA (60 psi).

TTO juga dilakukan pada pekerja terowongan, calon astronot dan individu dengan resiko pekerjaan hiperbarik dan hipobarik. Test ini ditujukan untuk mengetahui ambang batas kerja yang dapat dilakukan individu tersebut terkait dengan pekerjaannya, yakni ambang batas terjadinya resiko toksisitas oksigen. Toksisitas oksigen merupakan kondisi efek merugikan oleh oksigen tingkat molekuler akibat adanya peningkatan tekanan parsial udara.

Kapan TTO sebaiknya dilakukan?

TTO dapat bersifat skrining maupun evaluative. TTO skrining dilakukan dalam menyeleksi tenaga kerja sebelum diterjunkan dalam bidang pekerjaan khusus. Misalnya ahli biologi laut yang akan mengadakan penelitian bawah laut lebih dari 3 bulan, astronot yang mengikuti pelatihan pendaratan luar angkasa, pilot pesawat jet tempur, pendaki gunung yang akan mendaki diketinggian lebih dari 4000 meter, pekerja penggali terowongan jalan /tambang, penyelam profesional yang akan menjajagi kedalaman baru/ekstrim, para penjelajah ekspedisi kutub dll. TTO juga dapat dipergunakan dalam mengevaluasi tenaga kerja yang telah menjalani pekerjaan khusus dalam periode waktu tertentu (6 bulanan).

Bagaimana cara melakukan TTO?

Individu yang akan di uji dimasukkan ke dalam chamber hiperbarik dengan kapasitas tekanan hingga dapat mencapai 5 ATA (atmosphere absolute) dan oksigen breathing 100% selama 30-60 menit. Tingkat kedalaman 5 ATA biasanya dipergunakan dalam seleksi prajurit penyelam TNI AL. Pada resiko pekerjaan lainnya yang lebih ringan tekanan dapat kurang dari itu.

Resiko apa yang menurunkan nilai TTO?

  1. Kebiasaan merokok
  2. Massa protein tubuh (massa otot) dan massa lemak yang kurang
  3. Jenis kelamin. Terkait dengan nomor dua, secara umum massa protein dan lemak tubuh wanita lebih rendah
  4. Masa paparan resiko hipo-hiperbarik. Semakin lama terjun didunia kerja ini makin rendah ambang toksisitas oksigen
  5. Epilepsi dapat kambuh saat adanya paparan oksigen konsentrasi tinggi dan menurunkan ambang toksisitas oksigen
  6. Operasi besar kurang dari 12 bulan, operasi sedang kurang dari 6 bulan dan operasi ringan kurang dari 3 bulan.
  7. Riwayat kerja berat sebelumnya kurang dari 12 jam
  8. Penderita asma dan klaustrophobia
  9. Minum obat-obatan yang mempengaruhi fungsi otak (obat penenang, obat anti cemas dll), kortikosteroid dan alcohol kurang dari 18 jam
  10. Lepas alat-alat intravena dan kateter urin kurang dari 2 minggu

Meski TTO dapat memprediksi ambang toleransi individu terhadap paparan oksigen, namun dalam pelaksanaan pekerjaan terdapat faktor resiko yang tidak dapat diaplikasikan pada TTO dan menurunkan ambang toleransi yang lebih rendah dibandingkan ambang uji. Faktor resiko tersebut seperti suhu lingkungan yang dingin, status hipoglikemik, kecemasan, dan stress paska trauma.

Sejatinya pelaksanaan TTO mirip dengan terapi oksigen hiperbarik, namun dengan tekanan lebih dari 3 ATA dan terdapat monitoring ketat dari petugas/dokter didalam chamber untuk mendata apa yang terjadi selama TTO. Instansi yang berkepentingan menyelenggarakan TTO rutin adalah Dinas kesehatan TNI AL / US Navy untuk pasukan selamnya, Pertamina untuk pekerja bawah laut yang dimilikinya dan NASA Amerika Serikat.